Telp : 021-22715790 | HP/WA +6282234555758| PIN BB 51A5D742

Taman Nasional Komodo

6

Apa yang terlintas di pikiran jika mendengar kata Flores? Kebanyakan orang akan langsung terpikir komodo. Ya, reptil terbesar di dunia ini menarik perhatian, apalagi sejak menjadi 7 wonders of nature. Komodo ini tidak berada di Pulau Flores, melainkan di beberapa pulau di barat Flores, yaitu kawasan Taman Nasional Komodo (TNK). Dua pulau besar yang memiliki populasi komodo cukup banyak adalah Loh Liang (Pulau Komodo) dan Loh Buaya (Pulau Rinca).

Untuk mencapai TNK, kita harus melalu jalur laut, dimana landscape pulau-pulau TNK dengan background langit biru dan awan tipis akan memanjakan mata. Begitu mencapai dermaga Pulau Komodo, kita akan melewati jembatan panjang hingga akhirnya tiba di pintu gerbangnya. Untuk mengelilingi pulau, kita akan dipandu oleh beberapa ranger. Sebelum memulai treking, seorang ranger akan memberikan briefing singkat. Air liur komodo mengandung racun dan rumah sakit terdekat yang memiliki penawar racun komodo berada di Bali. Penciuman komodo juga sangat tajam, terutama bau darah. Untuk keselamatan, ada baiknya wanita yang sedang haid memberi tahu ranger supaya lebih diawasi.

8

Selain peka dengan bau darah, komodo sangat peka dengan gerakan. Disarankan untuk tidak melakukan gerakan tiba-tiba, apalagi berlari. Gerakan kamera atau tas selempang yang berayun juga menarik perhatian komodo. Bayangkan komodo sebesar ini ikut berjalan di antara rombongan karena tertarik dengan benda berayun di leher salah satu peserta, namun tidak perlu khawatir selama mengikuti arahan ranger.

2

Ranger mengantar kita berkeliling, melihat beberapa spot yang biasa disinggahi komodo. Kebetulan rombongan kami melewati medium trek dan melihat water hole, yang biasa disinggahi komodo untuk minum. Jika beruntung, kita akan bertemu beberapa ekor komodo yang sedang berjalan-jalan santai di sini. Cukup banyak pepohonan sehingga panas matahari tidak terlalu menyengat. Treking dilanjutkan menuju Sulphurea hill, dari sini bisa melihat laut dan sisi lain Pulau Komodo.

Tujuan berikutnya adalah Pulau Rinca yang lebih dikenal dengan Loh Buaya. Kenapa dinamakan Loh Buaya? Karena banyak buaya di pulau ini, ya di dekat hutan bakaunya. Menurut info dari ranger di sini, komodo berenang dari satu pulau ke pulau lainnya, sehingga populasi komodo tersebar di beberapa pulau di TNK.

1

Sama seperti di Loh Liang, untuk treking di Loh Buaya juga akan ditemani beberapa orang ranger. Ketika ranger menjelaskan, ternyata ada komodo muda mengamati kami dari dahan pohon, hal ini dilakukan komodo muda untuk menghindar dari jangkauan komodo dewasa agar tidak dimakan, perlu kita ketahui komodo termasuk hewan kanibal. Oiya, Selain bisa memanjat pohon , komodo juga bisa berenang lho . Hal ini membuat kami lebih ekstra hati-hati dan berjalan lebih dekat dengan rombongan karena bertemu banyak komodo di sini.

Lagi-lagi kami memilih trek medium, karena keterbatasan waktu dan tenaga. Disarankan memakai alas kaki yang nyaman dan topi, supaya bisa menikmati menjelajah habitat komodo di Pulau Rinca. Kali ini ranger membawa kami menuju dapur, yang berbentuk rumah panggung, ada tiga komodo besar di sekitar sini, belum lagi beberapa komodo yang kami temui sebelumnya selama perjalanan dari tempat briefing ke dapur.

Kemudian kami menuju ke sarang komodo untuk bertelur waktu itu, ya waktu itu karena saat ini sudah tidak dipakai lagi oleh komodo. Letaknya tersembunyi di balik pohon dan semak-semak yang cukup rimbun. Setelah itu ranger mengantar kami ke atas bukit, berbeda dengan Sulphurea Hill, bukit di Pulau Rinca jarang sekali pohon. Sepanjang perjalanan ke puncak bukit, kami sudah tidak bertemu komodo. Dari atas bukit ini terlihat dermaga, jika cuaca cerah, landscape pulau-pulau sekitar tampak jelas.

3
Wajah bahagia “rombongan komodo” Mei 2014 di puncak bukit Pulau Rinca, setelah 4 hari 3 malam berlayar dari Lombok. Tertarik untuk berkunjung ke habitat asli si kadal raksasa?

 

  • Penulis : Florentina Woro
  • Foto : Lucia Sushanti

 

Leave a Reply

*